Rabu, 11 Maret 2009

''SINOPSIS NOVEL ATHEIS''

Hasan, seorang pemuda yang masih tergolong berada dan punya tingkat stratifikasi sosial yang tinggi di desa asalnya, meninggalkan kedua orang tuanya dan memulai kehidupan baru di kota Bandung dengan tinggal bersama bibinya dan bekerja pada sebuah kantor jawatan pemerintah. Kehidupannya sehari-hari masih berjalan normal sebagaimana dari sejak dahulu ia menjalani kehidupan hingga ia bertemu Rusli dan Kartini. Berawal dari ajakan Rusli, kawan masa kecilnya dulu yang secara tak sengaja bertemu lagi sekarang setelah lama berpisah, untuk bertamu ke rumahnya dan yang terlebih lagi ada perasaan tertentu yang menghinggapinya kala dengan Kartini, yang merupakan kawan Rusli, pertama kali berjumpa, Hasan jadi sering mampir ke tempat Rusli. Dan mulailah Hasan mencebur dalam pergaulan Rusli dan Kartini, dan kawan-kawan mereka, yang merupakan aktivis ideologi marxis.Hasan yang dahulunya tetap mampu hidup sebagaimana biasa di desanya walaupun berada di tengah-tengah kemodernan kota Bandung, mulai berubah. Hal yang utama adalah menyangkut sisi relijiusitas yang selama ini sanggup dipegang teguhnya. Semakin sering ia berkumpul dalam forum-forum diskusi pemikiran marxis Rusli dan kawan-kawannya, juga semakin akrab ia dengan mereka, mulai semakin tak perlahan Hasan meninggalkan gaya hidup lamanya. Tentu saja ideologi marxis akan sangat menubruk pemahaman keagamaan yang sangat tradisionalnya Hasan. Dan ini juga tak berlangsung mudah. Pada awalnya Hasan masih sangat keras untuk berusaha melawan jalan pikiran kawan-kawan marxisnya. Hal ini ditunjukkan dengan tekadnya suatu kali untuk menyadarkan Rusli guna kembali ke jalan yang benar. Dengan semangat ia mendatangi Rusli, namun ternyata Hasan kalah berdebat. Rusli digambarkan sebagai sosok yang sangat cerdas dan pintar berwacana, tidak sebanding dengan Hasan yang masih sederhana wawasan maupun pola pikirnya. Hasan menyerah, ia terus menggabung dalam lingkunagan marxis itu dan terus tambah terpengaruh. Sewaktu suatu saat kembali ke rumah orang tuanya di desa Wanaraja, kebetulan bersama Anwar (salah seorang rekan marxisnya yang paling gila), ia bahkan berani berteus terang pada kedua orang tuanya tentang pemahaman keimanan terbarunya. Dan tentu saja untuk itu Hasan harus membayar dengan perpisahan untuk selamanya.
Namun ditengah keterus menceburan Hasan ke dalam lingkungan Marxis, ia sebetulnya juga tak sepenuhnya sanggup dan mau untuk mengikuti ideologi tersebut. Keberadaan seorang Kartinilah yang menjadi perangsang baginya untuk terus ada di komunitas yang membuat ia kebanyakan hanya menjadi penonton yang pasif dalam berbagai saling lempar wacana yang ada. Hingga akhirnya Hasan kawin dengan Kartini dan pada awalnya berbahagia sentosa raya. Tentu, tak lama pula, datanglah juga masa sengsara, Hasan dan Kartini mulai sering bertengkar. Dan pertengkaran inipun berujungkan perpisahan. Sumber konfliknya adalah, utamanya, ketidaksukaan Hasan pada gaya hidup modern Kartini. Hasan masih memendam cara pikir yang konservatifnya ternyata. Dan memang begitulah. Dalam keterlibatan ia berkecimpung di dunia pemikiran kaum “atheis”, ia masih sangat mendekap erat pandangan-pandangan masa lalunya. Dan pertentangan pikiran ini cukup menyiksa hari-hari Hasan, yang hanya sanggup diobati, awalnya, dengan impian akan keanggunan Kartini, tetapi selain itu Hasan pun berhadap dengan penderitaan fisik berupa penyakit paru-paru yang dideritanya.
Suatu hari Hasan mengetahui bahwa di suatu hotel Anwar pernah berniat memperkosa Kartini, dalam marah, ketika berjalan mencari Anwar, ia ditembak oleh tentara Jepang yang menuduhnya mata-mata. Hasan tersungkur oleh terjangan peluru dan mengucap takbir, sisa-sisa relijiusitas yang terpendam dihatinya selama ini keluar juga akhirnya. Ia mati di penjara sebab dikabarkan tak sanggup menahan siksa. Kartini sangat sedih dan terpukul begitu mendengar kabar kematian Hasannya tercinta.

UNSUR INTRINSIK NOVEL


1. TEMA : “ Kepercayaan Terhadap Tuhan YME “
2. AMANAT : Kita sebagai manusia yang beragama harus
mempunyai pendirian yang teguh dan jangan mudah
terpengaruh oleh berbagai ajakan dari orang lain
khususnya ajakan dalam masalah agama.
3. ALUR : Maju – mundur,artinya dalam novel ini menceritakan
kehidupan dirinya sendiri pada jaman sekarang kemudian
mundur dengan menceritakan kehidupan dirinya pada masa
yang lalu.
4. TOKOH : Hasan,Kartini,Rusli,Anwar,Raden Wiradikarta ( Ayah Hasan
),ibu Hasan,H.Dahlan,Kiyai Mahmud,Fatimah,Rukmini,
H.Kosasih,Nata,Siti,Mimi,Bibi kost dan Minah.
5. LATAR : a. Lereng gunung Telaga Bodas bernama kampung
Panyeredan,Bandung.
b. Wilayah Bandung Kota.
6. SUDUT PANDANG DAN GAYA PENULISAN
a. Sudut Pandang : Menggunakan sudut pandang orang pertama (Aku )
b. Gaya Penulisan : Masih tercampur oleh bahasa asing ( jepang-belanda )
tapi bisa dimengerti oleh pembaca meskipun dari
susunan kata maupun kalimatnya masih ada yang
belum sistematis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar